Menurut Depdiknas (2008), bahan ajar dapat dikembangkan
dalam berbagai bentuk yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik
materi yang akan disajikan. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, penggunaan alat bantu media pembelajaran menjadi semakin luas dan
interaktif seperti penggunaan komputer atau internet. Penggunaan internet dalam
proses pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning. E-learning merupakan
suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke
siswa dengan menggunakan media internet, intranet atau media jaringan komputer
lain (Hartley, 2001).
E-learning membuat
pembelajaran dapat lebih terbuka dan fleksibel. Pembelajaran dapat terjadi
kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja. Salah satu media yang
dikembangkan untuk menunjang pembelajaran secara online adalah program
LMS (Learning Management System). Menurut Yasar dan Adiguzel (2010), Learning
Management System (LMS) adalah suatu pengelolaan pembelajaran yang mempunyai
fungsi untuk memberikan sebuah materi belajar, mendukung kolaborasi, menilai
kinerja peserta didik, merekam data peserta didik, dan menghasilkan laporan
yang berguna untuk memaksimalkan efektifitas dari sebuah pembelajaran. Selain
materi ajar, skenario pembelajaran perlu disiapkan dengan matang untuk
mengundang keterlibatan peserta didik secara aktif dan konstruktif dalam proses
belajar mereka (Hasbullah, 2009).
E-learning pada pembelajaran di
sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa
tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga
sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik.
Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian
orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar
mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan
pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian
pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada
pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
Pengertian e-learning pada umumnya
terfokus pada cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut
Gilbert & Jones dalam Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi
pembelajaran melalui suatu media elektronik, seperti internet,
intranet/ekstranet, satelite broadcast, audio/video, TV interaktif,
CD-ROM dan computer based training (CBT). E-learning juga
diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik
(LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan penyampaian materi selama
proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen menyatakan e-learning sebagai
suatu pengiriman materi melalui semua media elektronik, termasuk internet,
intranet, siaran radio satelit, alat perekam audio/video, TV interaktif, dan
CD-ROM (Anderson, 2005).
Pengertian e-learning berbeda
dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran
jarak jauh (distance learning). Online learning merupakan
bagian dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian
National Training Authority bahwa e-learning merupakan
suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu
meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua
media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi
lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran
yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang
menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas
cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih
luas dibandingkan e-learning, yaitu tidak hanya melalui media
elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik. Distance
learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik setiap
waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umum e-learning dapat
diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi
informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan
internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang ada di
lembaga pendidikan.
Penerapan e-learning banyak
variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat.
Surjono (2007), menekankan penerapan e-learning pada
pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu.
Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan
pembelajaran yang dimasukkan ke dalam web server dan ditambah
dengan forum komunikasi melalui e-mail dan atau mailing
list (milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan
pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem
informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana
pendidikan lain, sehingga menjadi portal e-learning. Pembagian
tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran
berbasis web yang ada di internet. Nedelko (2008), menyatakan
ada tiga jenis format penerapan e-learning, yaitu:
1. Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan
secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang
berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes
singkat
2. Blended or mixed mode e-learning, yaitu sebagaian proses pembelajaran
dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3. Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran
dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik
juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.
Penerapan e-learning lebih
banyak dimaknai sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net)
atau secara online. Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah
pada teknologi online. TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan)
yang memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara
cepat. Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada
beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik
dari peserta didik. Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran
penting di dalam penerapan e-learning, karena jika teknologi
tidak mendukung maka sangat sulit untuk menerapkan e-learning,
minimal sekolah mempunyai komputer. Materi pembelajaran juga harus sesuai
dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara jelas atau diberikan link ataupun
petunjuk sumber pembelajaran yang lain. Karaktersitik peserta didik juga sangat
dibutuhkan karena nilai utama di dalam e-learning adalah
kemandirian.
E-learning membutuhkan model yang harus
didisain dalam bentuk pembelajaran inovatif. Pengembang, mempunyai
kesempatan dalam merencanakan pengalaman sebelumnya untuk penerapan
program e-learning. Untuk keperluan pengembangan e-learning,
pengembang konten pembelajaran diharapkan melakukan keseluruhan dari kecakapan
mengajar dalam proses pembelajaran e-learning. Pengembang
diharapkan dapat mengganti kekurangan dari subtansi atau waktu yang mungkin
terjadi dalam pembelajaran konvensional. Walaupun demikian, pengalaman belajar
yang terstruktur dengan baik belum cukup mengganti kekurangan kecakapan
komunikasi dalam proses pembelajaran e-learning. Performansi
peserta didik melalui e-learning adalah memperlihatkan
kemampuan e-learning dalam pengintegrasian proses
pembelajaran. Komunikasi elektronik dikombinasikan dengan proses pengembangan
yang dibutuhkan untuk menempatkan suatu pembelajaran dalam fasilitas
format e-learning yang pengintegrasiannya ke dalam
penstrukturan konten.
Konten e-learning adalah
objek yang harus ada agar pembelajaran dapat berjalan, sedangkan aktor e-learning adalah
individu-individu yang melaksanakan pembelajaran e-learning.
Konten e-learning dapat berupa text-based content, multimedia-based
content ataupun kombinasi keduanya (text-based content dan multimedia-based
content).
Aktor dalam
pelaksanakan e-learning dapat dikatakan sama dengan aktor pada
pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran diperlukan adanya pengajar atau
tutor yang membimbing, siswa yang menerima bahan ajar dan pengajaran
serta administrator yang mengelola administrasi dan proses
belajar mengajar.
Konten dan aktor
memiliki hubungan yang sangat erat, karena konten e-learning dibuat,
disimpan, dirawat dan dipergunakan oleh aktor e-learning itu
sendiri. Terdapat daur hidup (lifecycle) dalam konten e-learning dan
aktor adalah pusat dari daur hidup tersebut. Aktor berperan dalam membua (create),
menyimpan (archive), merawat (maintain) dan mempergunakan (use)
konten e-learning.
Setiawan (2014)
melaporkankan bahwa Technology Acceptance Model (TAM)
telah mengalami ekstensi dengan memperhatikakan faktor eksternal, yaitu
keyakinan diri (self efficacy) dan tekanan sosial (sosial influence)
yang menjelaskan lebih lanjut dan penyebab dari kemudahan penggunaan (Perceived
Ease Of Use) dan tentang kemanfaatan (Perceived Usefulness) yang
dimiliki pengguna teknologi. Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap dan
perilaku penerimaan teknologi adalah pengaruh sosial (social influence)
atau lebih spesifik disebut dengan psychological attachment.
Penelitian dilakukan
dengan cara mencari data sekunder yaitu studi literatur yang terdiri atas
jurnal-jurnal karya ilmiah dan penelitian, buku, dan artikel online di
internet. Faktor-faktor dalam TAM yang menjadi perhatian adalah sebagai
berikut.
1.
Portal
Design (PD) adalah
antarmuka yang dapat membantu para pemakai dalam menggunakan sistem secara
mudah dengan mengurangi usaha dalam mengidentifikasi objek tertentu pada layar
atau penyediaan navigasi yang jelas antara layer yang satu
dengan yang lainnya.
2.
E-resources
Organization (ErO)
adalah tatacara sistem komputer sehingga dapat secara efektif terintegrasi ke
dalam pekerjaan praktis dari suatu organisasi tertentu, dalam hal ini ialah
pembelajaran.
3.
Individual
Differences (ID)
adalah faktor pribadi pengguna yang memiliki pengetahuan dasar mengoperasikan
komputer baik dari segi teknologi Sistem Operasi maupun aplikasi-aplikasinya,
lamanya penggunaan berbagai macam aplikasi sistem e-learning sejenis,
dan pengetahuan atas bahan ajar akan memberikan kepercayaan diri dan kemudahan
adaptasi sistem e-learning.
4.
Social
Influence (SI) adalah
satu faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku penerimaan melalui ketatan,
identifikasi dan internalisasi.
5.
Perceived
Ease of Use (PEoU)
adalah tingkat kepercayaan bahwa sistem e-learning akan mudah
untuk dipakai dan terbebas dari kesulitan.
6.
Perceived
Usefulness (PU) adalah
tingkat kepercayaan bahwa penggunaan sistem e-learning akan
meningkatkan pencapaian pembelajaran.
7.
Attitude
Toward Using (ATU)
adalah sikap pengguna (user) ke arah menggunakan sistem e-learning.
8.
Behavioral
Intention to Use (ITU)
adalah minat pengguna (user) ke arah berlanjutnya penggunaan e-learning yang
dianggap memberikan manfaat pada proses pembelajaran.
9.
Actual
System Usage (ASU)
adalah pengguna (user) benar-benar menggunakan e-learning secara
nyata karena merasakan manfaatnya.
Hasil penelitian Setiawan (2014) tentang implementasi e-learning menggunakan Technology
Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan
mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai
berikut.
1.
Pengguna
(peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan
sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka
akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning.
Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata
menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
2.
Keberadaan
pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar
pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut.
Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang
sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut
yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
3.
Bentuk
model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang
diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan
kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam
penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi
komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar)
sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk
dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam
pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran,
mempertinggi efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran,
meningkatkan hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi
pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU
(penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap menggunakan
dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama penggunaan
dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai faktor
dalam atau faktor internal.
DAFTAR
PUSTAKA
Anderson,
B. (2005). “Strategic e-learning implementation.” Educational Technology & Society,
8 (4), 1-8. 1. ISSN 1436-4522
Depdiknas. 2008. Panduan
Pengembangan Bahan Ajar. Jakarta: Depdiknas.
Hartley,
Darin E. 2001. Selling E-Learning. American Society for Training and Development.
Hasbullah.
2009. Pengembangan Model Pembelajaran E-Learning Untuk Meningkatkan
Kualitas Proses dan Hasil Belajar Mahasiswa Pada Mata Kuliah
Energi dan Konversi.
Jurnal Penelitian,
(Online), 10 (2): 25-30, (http://jurnal.upi.edu/file/Hasbullah.pdf)
Nedelko,
Z. (2008). Participants’ Characteristics for E-Learning. http://www.g-cass.com.
Rahmaniyah, Anna, dkk. 2013. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis E-Learning Pada Materi
Hidrokarbon Dan Minyak Bumi Kelas X Semester
2. Universitas Negeri Malang
Setiawan,
W, dkk. (2014). Analisis Penerapan Sistem E-Learning FPMIPA
UPI
Menggunakan Technology Acceptance Model (TAM).
Jurnal Pengajaran MIPA, Volume
19, Nomor 1, April 2014, hlm. 128-140.
Surjono,
H.D. (2007). Pengantar E-learning dan Implementasinya di
UNY. Makalah disampaikan
pada Pelatihan Pembelajaran online UNY. Juli. Yogyakarta.
Yasar,
O & Adiguzel, T. 2010. A Working Successor of Learning Management Systems:
SLOODLE. Procedia: Social and Behavioural Sciences, (Online),
12 (1): 121-140,
jelaskan mengenai kekurangan e-learning !
BalasHapusMeski begitu, pemanfaatan internet untuk e-learning juga tidak terlepas dari berbagai kekurangan, yaitu sebagai berikut:
Hapusa. Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri, bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.
b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong aspek bisnis atau komersial.
c. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.
d. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan ICT (Information Communication Technology).
e. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.
f. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).
g. Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet.
h. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
Apakah dengan penggunaan e-learning dalam pembelajaran mampu menghubungkan ranah afektif dan psikomotorik pada siswa? Lalu bagaimana cara anda jika anda berperan sebagai seorang guru dalam mengevaluasi hal tersebut?
BalasHapussaya rasa mampu karena dalam elearning siswa juga dituntut untuk mengetahui pembelajaran yg sedang dibahas dan juga pada aspek psikomotorik juga iswa bisa belajar sekreatif mungkin untuk menguasi elearning dan untuk bisa mneciptakan sendiri elearning dalam bentuk kelompok belajar atau yang lainnya.
Hapusevaluasi pada elearning dapat diterapkan dgn memberikan kuis dan btugas serta dievaluasi niolainnya, dan jika masih banyak kekurangan dalam elearning ini guru juga bisa memberikan pembelajaran dengan tatap muka langsung
Apakah menurut anda e-learning cukup efektif untuk diterapkan dalam proses pembelajaran? berikan alasannya
BalasHapusmenurut saya cukup efektif dan untuk manfaat elearning dapat anda lihat pada materi yg saya postingkan.
HapusE-learning pada pembelajaran di sekolah-sekolah khususnya pembelajaran sains telah diterapkan sejak beberapa tahun yang lalu. Selain untuk tujuan pembelajaran, penerapan e-learning juga sebagai sarana untuk mengenalkan teknologi informasi kepada peserta didik. Namun sampai sekarang pemanfaatannya masih kurang optimal. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa penerapan e-learning hanya sekedar mengikuti trend saja tanpa menghiraukan apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai atau tidak. Oleh karena itu, penelitian atau kajian pustaka tentang implementasi e-learning khususnya pada pembelajaran sains perlu terus dilakukan.
dari materi yang anda jelaskan dalam penggunaan media e learning, apakah menutup kemungkinan untuk siswa yang jauh dari kota yang perangkat TIKnya tidak terpenuhi bisa menggunakan media ini?
BalasHapusmedia e-learning memang harus didukung oleh sinyal internet dan ilmu teknologi yang sudah baik sehingga dalam penerapannya tidak ada lagi gangguang teknis yg terjadi. untuk di daerah pedesaan mungkin media pembelajaran yang digunakan berbeda alias disesuaikan dgn kondisi lingkungan.
Hapusapakah e-learning dapat diterapkan pada semua materi pelajaran?
BalasHapusya karena semua materi pembelajaran bisa diketikkan dalam bentuk tulisan jadi penerapan dalam e-learning juga bisa dilakukan untuk semua pelajaran terkhusus pelajaran kimia.
Hapusmenurut anda apakah pembelajran e-learning sudah efektif digunakan saat ini?
BalasHapusya, naumn tetapharus disesuaikan dgn kondisi lingkungan. namun tetap ada kendala apabila lampu padam dan sinyal internet berkurang makan akan ada hambatan tentunya dalam e-learning ini karena sistemnya online
HapusSyarat dari e-learning yang baik itu apa saja?
BalasHapusMenurut Newsletter of ODLQC, 2001 (dalam Siahaan) syarat-syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-learning) adalah :
Hapusa. kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan dalam hal ini internet.
b. Tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM atau bahan cetak
c. tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan
d. adanya lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning
e. adanya sikap positif pendidik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet
f. adanya rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar
g. adanya sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar
h. adanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara
Menurut anda dapatkah kekurangan dari e-learning dapat di atasi? Jika iya bagaimana? Jika tidak mengapa?
BalasHapuskekurangan ada yg dapat diatasi dan ada yg tidajk dapat diatasi. misalnya kekurangan mengenai padamnya listrik tentunya untuk mengatasinya sangat sulit karena harus melalui berbagai tahap dan paling tidak kita hanya bisa menunggu. untuk kekuranhgan perlu adanya akeahlian dalam memainkan internet dan nteknologi say rasa bisa diatasi dgn cara latihan untuk menggunakannya.
Hapusbagaimanakah cara menarik minat siswa untuk berpartisipasi aktif dengan e-learning yang anda pilih?
BalasHapusdengan mengadakan terlebih dahulu seperti memperlihatkan proses e-learning dan memberikan apresiasi untuk siswa yang dapat menggunakan dengan baik
Hapusapakah penggunaan elearning dapat menimbulkan dampak negatif bagi siswa? jika iya apa saja usaha yang dapat dilakukan oleh guru dalam meminimalisir dampak negatif dari penggunaan elearning sebagai media pembelajaran?
BalasHapusbisa saja, larena sistemnya online bisa saja siwa melihat hal2 negatif dalam internet, dan dampak negatif lainnya bagi siswa yg kurang mampu bakal sulit mengikuti proses elearning karena biaya pulsa dan laptop ataupun biaya warnet
Hapusbagaimana e-learning dapat mengubah materi kimia yang sifatnya abstrak menjadi konkret?
BalasHapusbisa dengan memperlihatkan video2 animasi yang bersifat konkrit
Hapusapa upaya guru supaya e-learning yang ia gunakan dapat menarik minat siswa untuk belajar?
BalasHapussaya rasa sma dengan pertanyaan saudari olga, silahkan dilihat di bagian komentar olga redika
HapusPrinsip pembelajaran berbasis web, yaitu :
BalasHapus1. Web Course
proses aktivitas pembelajaran yang terjadi tanpa tatap muka secara langsung antara pengajar dan peserta didik.web course ini ada 2 macam :
a. synchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang bersamaan di tempat yang berbeda.
b.Asynchronize : Pengajar dan peserta didik melakukan pembelajaran dalam waktu yang tentukan dan ditempat yang berbeda. Misalnya pengajar bertanya dengan peserta didik, lalu si peserta didik tidak harus menjawab pada saat itu juga akan tetapi bisa di lain waktu.
2. Web Centric Course
Aktivitas pembelajaran yang 50% nya mencakup synchronize dan asynchronize dan 50% nya lagi melakukan aktivitas pembelajaran dengan berinteraksi secara langsung.
3. Web Enhanced Course
Kegiatan tatap muka biasa secara langsung dan dihadiri juga sumber lain misalnya dengan menampilkan video ataupun dengan mengakses sumber lain dari internet pada saat proses pembelajaran.
Keberadaan pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut.jelaskan maksud dari faktor tersebut
BalasHapusSedikit menambahkan
BalasHapusManfaat E-Learning
E-learning mempermudah interaksi antara siswa dengan bahan/materi pelajaran. Demikian juga interaksi antara siswa dengan guru maupun antara sesama siswa. Siswa dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri siswa. Guru dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus
dikerjakan oleh siswa di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para siswa. Menurut Siahaan (2002) sebagaimana dikutip oleh Ahlis (2007: 24-26) manfaat e-learning dapat dilihat dari dua sudut, yaitu:
1 Sudut Siswa
Dengan kegiatan e-learning dimungkinkan berkembangnya fleksibilitasbelajar yang tinggi, artinya siswa dapat mengakses bahan-bahan belajar setiap saat dan berulang kali. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru setiap saat, dengan kondisi yang demikian ini siswa dapat lebih memantapkan penguasaannya terhadap materi pembelajaran.
2 Sudut Guru
Beberapa manfaat yang diperoleh guru, instruktur antara lain adalah bahwa guru, instruktur dapat :
(1) Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi.
(2) Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak.
(3) Mengontrol kegiatan belajar siswa. Bahkan guru atau instruktur juga dapat mengetahui kapan siswanya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang.
(4) Mengecek apakah siswa telah mengerjakan soal-soal.
(5) Latihan setelah mempelajari topik tertentu, dan memeriksa jawaban siswa dan memberitahukan hasilnya kepada siswa. Seiring perkembangan teknologi internet, metode e-learning mulai dikembangkan. MOODLE adalah sebuah nama untuk sebuah program aplikasi yang dapat mengubah sebuah media pembelajaran kedalam bentuk web. Aplikasi ini memungkinkan siswa untuk masuk kedalam “ruang kelas” digital untuk mengakses materi-materi pembelajaran. Dengan menggunakan MOODLE, kita dapat membuat materi pembelajaran, kuis, jurnal elektronik dan lain-lain. MOODLE itu sendiri adalah singkatan dari Modular Object Oriented Dynamic Learning Environment (Prakoso, 2005: 13).
Tambahan
BalasHapusModel pengajaran berbasis web juga menekankan penilaian pada level tugas. Evaluasi tidak sekedar untuk mengetahui tingkat pemahaman suatu materi, tetapi dikembangkan untuk menilai pencapaian penyelesaian tugas. Mahasiswa tidak dievaluasi sampai sejauh mana pengetahuan yang dimilikinya tetapi bagaimana ia memanfaatkan pengetahuannya untuk menyelesaikan suatu permasalahan.
Uraian di atas menunjukan bahwa sebagai dasar dari e-learning adalah pemanfaatan teknologi internet. Jadi e-learning merupakan bentuk pembelajaran konvensional yang dituangkan dalam format digital melalui teknologi internet. Oleh karena itu e-learning dapat digunakan dalam sistem pendidikan jarak jauh dan juga sistem pendidikan konvensional. Dalam pendidikan konvensional fungsi e-learning bukan untuk mengganti, melainkan memperkuat model pembelajaran konvensional.