Pengertian media memiliki multi makna, baik dilihat secara
terbatas maupun secara luas. Munculnya berbagai macam definisi disebabkan
adanya perbedaan dalam sudut pandang, maksud, dan tujuannya, sehingga banyak orang membedakan pengertian
media dan alat peraga. Namun tidak sedikit yang menggunakan kedua istilah itu
secara bergantian untuk menunjuk alat atau benda yang sama
(interchangeable). Perbedaan media dengan alat peraga terletak pada fungsinya
dan bukan pada substansinya. Suatu sumber belajar disebut alat peraga bila
hanya berfungsi sebagai alat bantu pembelajaran saja; dan sumber belajar
disebut media bila merupakan bagian integral dari seluruh proses atau
kegiatan pembelajaran dan ada semacam pembagian tanggung jawab antara guru di
satu sisi dan sumber lain (media) di sisi lain.
Dalam
dunia pendidikan Arief S. Sadiman menyatakan bahwa media adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim kepenerima sehingga
dapat merangsang pikiran, perasaan, minat, serta perhatian siswa sedemikian
rupa sehingga proses belajar terjadi. Adapun Umar Hamalik, pakar
pendidikan Indonesia menyatakan media adalah alat, metode, dan teknik
yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interest antara
guru dan anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran disekolah.
Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk
menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan minat si penerima pesan. Di dalam proses penyampaian
informasi ini dengan menggunakan saluran (media) maka komunikan akan menerima
informasi/pesan tersebut melalui kelima panca inderanya (penglihatan,
pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecap).
Ada
beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain
landasan filosofis, psikologis, teknologis, dan empiris.
- Landasan filosofis.
Ada suatu pandangan, bahwa dengan digunakannya berbagai
jenis media hasil teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses
pembelajaran yang kurang manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam
pembelajaran akan terjadi dehumanisasi. Akan tetapi, siswa dihargai harkat
kemanusiaannya diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, baik cara maupun alat
belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan teknologi tidak
berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut tidak perlu
muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadap siswa dalam proses
pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang memiliki
kepribadian, harga diri,motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang berbeda
dengan yang lain, maka baik menggunakan media hasil teknologi baru atau tidak,
proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan humanis.
- Landasan psikologis.
Dengan memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar,
maka ketepatan pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh
terhadap hasil belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat
mempengaruhi hasil belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping
memperhatikan kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi
serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasan persepsi hendaknya
diupayakan secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara
efektif. Untuk maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat
sehingga dapat menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang
diamatinya, (2) bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan
pengalaman siswa. Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah
mempelajari hal yang konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinum
konkrit-abstrak dan kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada
beberapa pendapat.
- Pertama, Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu menggunakan kata-kata (symbolic representation). Menurut Bruner, hal ini juga berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa.
- Kedua, Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
- Ketiga, Edgar Dale, membuat jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata, dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan simbol.
- Landasan teknologis.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
teknologi komunikasi dan informasi mengalami kemajuan yang sangat pesat untuk
selanjutnya berpengaruh terhadap pola komunikasi di masyarakat. Tuntutan
masyarakat yang semakin besar terhadap pendidikan serta kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, membuat pendidikan tidak mungkin lagi dikelola hanya
dengan pola tradisional, karena cara ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan dan
tuntutan masyarakat. Hasil teknologi telah sejak lama dimanfaatkan dalam
pendidikan. Banyak yang dharapkan dari alat- alat teknologi pendidikan yang
membantu mengatasi berbagai masalah pendidikan sehingga dapat membantu
siswa belajar secara individual dengan efektif dan efisien. Dalam konteks
pendidikan yang lebih umum, ataupun hanya proses belajar mengajar, teknologi
pendidikan merupakan pengembangan penerapan, dan penilaian sistem , teknik dan
alat bantu untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas belajar manusia.
Dengan demikian, aspek- aspeknya meliputi pertimbangan
teoritik yang merupakan hasil penelitian, perangkat dan peralatan teknis atau
hardware, dan perangkat lunaknya atau software.
Landasan empiris. Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
Landasan empiris. Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.
- Landasan empiris.
Temuan-temuan penelitian menunjukkan bahwa terdapat
interaksi antara penggunaan media pembelajaran dan karakteristik belajar siswa
dalam menentukan hasil belajar siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan
yang signifikan bila ia belajar dengan menggunakan media yang sesuai dengan
karakteristik tipe atau gaya belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar
visual akan lebih memperoleh keuntungan bila pembelajaran menggunakan media
visual, seperti gambar, diagram, video, atau film. Sementara siswa yang
memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media audio,
seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media
audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan
media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri. Atas dasar ini, maka
prinsip penyesuaian jenis media yang akan digunakan dalam kegiatan pembelajaran
dengan karakteristik individual siswa menjadi semakin mantap. Pemilihan dan
penggunaan media hendaknya jangan didasarkan pada kesukaan atau
kesenanangan pengajar, tetapi dilandaskan pada kecocokan media itu dengan
karakteristik siswa, disamping kriteria lain yang telah disebutkan sebelumnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Azhar Arsyad. 2011. Media
Pembelajaran. Jakarta : Raja Gravindo Persada.
Khairal,
Jainal. 2015. https://jailanikhairal.wordpress.com/2015/03/25/makalah-landasan-teoritis-media-pembelajaran-dan-ciri-ciri-media-pembelajaran/. Diakses 28 januari 2017.
Sadiman,
A.S. 1986. Media pendidikan: pengeratian, pengembangan, dan pemanfaatannya.
Jakarta: Cv. Rajawali.
Ibrahim,
H. 1997. Media pembelajaran: Arti, fungsi, landasan pengunaan, klasifikasi,
pemilihan, karakteristik oht, opaque, filmstrip, slide, film, video, Tv,
dan penulisan naskah slide. Bahan sajian program pendidikan akta mengajar
III-IV. FIP-IKIP Malang.